Menurut hasil studi berbasis
populasi, kasus-kontrol di berbagai lokasi, yang telah dilaporkan dalam
Archives of Pediatric & Adolescent Medicine November 2009, banyak
antibiotika yang telah digunakan selama kehamilan, kecuali sulfonamide dan
nitrofurantoin, tidak dikaitkan dengan kelainan janin.
Krista S.Crider, PhD dkk dari US
Centers for Disease Control and Prevention di Atlanta, Gerogia, menulis bahwa
antimikroba dan antibiotika khususnya, merupakan obat yang sering digunakan
selama kehamilan karena terapi infeksi penting untuk kesehatan ibu dan
janinnya.
Meskipun tampaknya beberapa
golongan antibiotika relatif aman digunakan selama kehamilan, namun sebelumnya
belum ada studi skala besar yang menilai keamanan atau resiko berbagai golongan
antibakteri.
Tujuan The National Birth Defects
Prevention Study yang dilakukan si AS tersebut adalah menilai kaitan antara
penggunaan antibiotika selama fase perkembangan pada kehamilan awal (dari 1
bulan sebelum kehamilan hingga 3 bulan usia kehamilan) dengan kelainan janin.
Studi tersebut melibatkan 13.155
ibu yang janinnya mengalami 1 kelainan saat lahir yang dideteksi melalui
program surveilans kelainan janin di 10 negara bagian. Subyek kontrol adalah
4941 ibu yang secara acak dipilih dari daerah geografik yang sama.
Dalam studi ini dicatat
penggunaan antibiotika oleh ibu hamil selama periode 1 bulan sebelum hamila
hingga akhir trisemester pertama, dan parameter penilaian utama adalah Odd
Ratio (OR) yang menggambarkan kaitan antara penggunaan antibiotika spesifik dan
kelainan janin yang telah ditentukan.
Selama kehamilan, penggunaan
antibiotika dilaporkan meningkat dan puncaknya selama bulan ketiga. Penggunaan antibiotika
pada satu waktu selama periode 3 bulan sebelum hamil hingga akhir kehamilan
dilaporkan sebesar 29,4% pada ibu yang janinnya mengalami kelainan saat lahir
dan 29,7% pada subyek kontrol.
Kelainan janin yang dikaitkan
dengan sulfonamide adalah anensefali (OR 3,4), sindroma jantung kiri
hipoplastik (OR 3,2), koarktasio aorta (OR 27), atresia koanal (OR 8,0),
kelainan gerak transversal (OR 2,5), dan hernia diafragmatik (OR 4,2).
Kelainan janin yang dikaitkan
dengan nitrofurantoin adalah anoftalmia atau mikrooftalmos (OR 3,7), sindrom
jantung kiri hipoplastik (OR 4,2), defek septum atrium (OR 1,9), dan celah
bibir dan palatum (OR 2,1). Eritromisin dikaitkan dengan 2 defek dan penisilin,
sefalosporin serta kuinolon masing-masing dikaitkan dengan 1 defek.
Meskipun penisilin, eritromisin,
dan sefalosporin sering digunakan oleh ibu hamil, tidak dikaitkan dengan
kebanyakan kelainan janin. Sedangkan sulfonamid dan nitrofurantoin dikaitkan
dengan beberapa kelainan janin sehingga memerlukan tambahan penelitian yang
cermat.
Keterbatasan studi ini meliputi
disain retrospektif yang tidak mampu menentukan kaitan penyebab; penentuan
penyebab kelainan janin merupakan hal yang problematik, kelainan tunggal dapat
terjadi karena berbagai penyebab, selain
itu adanya kemungkinan bias dan kesulitan menentukan apakah kelainan janin
dikaitkan dengan antibiotika khusus atau dengan infeksi yang dialami.
Meskipun tidak dapat menentukan
keamanan obat selama kehamilan, tetapi studi ini menunjukkan risiko yang
dikaitkan dengan banyak golongan antibakteri yang digunakan selama kehamilan.
Sumber : CDK 175 / Vol.37 No.2 / Maret-April 2010
Referensi :
1.
Many Antibitocs Used During Pregnancy Are Not Associated With
Several Birth Defects (http://www.medscape.com/viewarticle/711665_print)
2.
Antibiotic Use During Pregnancy And Birth
Defects: Study Examines Associations. (http://www.sciencedaily.com/releases/2009/11/091102171417.htm)
regards, taniafdi ^_^
No comments:
Post a Comment